Rabu, 02 Oktober 2024

Takwin Quotient-TQ (Kecerdasan Pembinaan) : Solusi Pembentukan Karakter Seorang Muslim

         

Takwin Quotient-TQ (Kecerdasan Pembinaan) : Solusi Pembentukan Karakter Seorang Muslim

Rasulullah saw. waspada betul terhadap sifat licik dan khianat kaum Yahudi, khususnya dalam memanipulasi perjanjian dan dokumen. Beliau meminta salah seorang penulis wahyu, Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Suryani, salah satu cabang bahasa Ibrani. Maka, "Aku selesai mempelajarinya dalam 14 hari," demikian pengakuan Zaid (h.r. Bukhari).

Pada saat Huyay bin Al-Ahthab telah begitu merepotkan Jamaah Islamiyah yang dipimpin Rasulullah saw. di Madinah, beliau melontarkan suatu kalimat, "Siapa yang siap membebaskan daku dari gangguan Huyay?" Suatu regu kecil yang lincah, solid, dan efektif membentuk diri bagi suatu misi. Mereka sukses "menyelesaikan" Huyay dan benteng Khaibar yang sangat kuat itu jatuh ke tangan muslimin.

Huyay bukan saja benci kepada Rasululla saw., tetapi juga menyebarkan kebenciannya kepada berbagai kalangan. Setiap calon menantunya harus dijamin membenci Rasulullah saw.

Rib'i bin Amir bukanlah orang yang 'berpangkat tinggi' dalam pasukan perang Qadisiyah. Namun, itu tak membuatnya terkucil untuk menggeluti tugas-tugas besar. Ia diutus untuk merespon undangan Jenderal Rustum, panglima pasukan Persia. Saat mendatangi kemah panglima, Rib'i menangkap nuansa pelecehan terhadap umat Islam melalu bahasa konkrit, yakni permadani Persia yang tebal dan indah. Ia menangkap makan tuduhan, umat Islam berjuang untuk mencari kekayaan dunia.

Menyadari itu, ia segera menjawab dengan bahasa konkrit yang lebih tajam. Diseretnya tombak di atas permadani dan tunggangannya pun tetap menginjak permadani. "Memang kami akan menang kalau tujuan kami adalah harta, tentu kami harus menjaga permadani ini dengan lembut dan sabar. Tetapi, aku berani menyeretkan tombakku dan kusuruh keledaiku menginjakkan kakinya diatas permadani mewah ini."

Pada saat menghadap Rustum yang -atas saran tetuanya-membangun gapura rendah di depan singgasananya, agar Rib'i datang menunduk. Ia memang datang menunduk,, tetapi dengan --maaf-- pantatnya lebih dulu dihadapkan ke Rustum. Dari dialog diangka tentang tujuan perjuangan dan dakwah Islam, ia berhasil mematahkan argumentasi lawan dan menjelaskan hakikat tauhid dan kemerdekakan mansuia. Bahkan, para budak di sektiar Rustum berkomentar, "Benarlah ucapan muslim ini."

Abdullah bin Zubair anak muhajir pertama , lahir di Darul Hijrah, Madinah yang bercahaya. Sebelumhya, Sebuah berita mengguncang Madinah. Pasalnya, kaum Yahudi telah mengumumkan, para dukun dan paranormal mereka telah mengirimkan tenung-tenung untuk mencelakai para sahabat, khususnya muhajirin. "Tak ada anak dilahirkan untuk mereka!"

Ajaib, yang lahir justru Abdullah. Ibunya Asma' binti Abi Bakar, Ayahnya Zubair bin Awwam. Saat bayi-bayi lain seumurnya mulai mampu mengucapkan sepatah kata "ma, ma, ba, ba", Abdullah mengucapkan "saif, saif" (pedang, pedang). Saat teman-temannya berhamburan ketakutan karena kedatangan Umar bin Khaththab, yang mereka dengar dari orang-orang pasar bersifat galak terhadap para pedangan nakal, Abdullah tegak dengan hormat.

"Mengapa engkau tak berhamburan seperti teman-temanmu?" tanya beliau. Dengan sigap Abdullah menjawab, "Lam artakib dzamban fa akhafaka wa ahrab, walam takuni't Thariqu dhayiqatan fau uwassi'a lak (Aku tak melakukan kesalahan apa pun, buat apa aku takut kepadamu dan berhamburan? Jalan pun tak sempit, buat apa menyingkir?)".

Dari berbagai ilustrasi di atas dapat kita tarik pelajaran, betapa sebuah pesan tetaplah sebuah pesan. Yang menjadikannya berbekas ialah cara penyampaiannya; yang meliputi momentum, redaksi, kondisi kejiwaan, kadar kematangan jiwa, dan beberapa hal yang terkait dengan komunikan.

Zaman ini mendapat limpahan ‘berkah’ gagasan pendidikan. Karena banyaknya gagasan dan penawaran yang diajukan, masyarakat menjadi pusing. Yang terlalu liberal, sampai-sampai tak berani memberikan kata tidak atau jangan. Mereka cemas bila peserta didik menjadi serba takut. Soal pembeda antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, harus digiring secara ‘alami’ dan ‘gradual’. Ada yang tetap bertahan pada teks. Baik adalah baik, buruk adalah buruk. Berhenti sekrang juga, kerjakan sekarang juga, matang sekarang juga!.

“Setiap zaman mempunyai masalahnya sendiri dan setiap masalah ada yang memecahkannya.” Pepatah dakwah ini menjadi signifikan, mengingat zaman yang telah lalu tidak memiliki metode pelatihan seperti ini. Pandangan positif akan mengatakan bahwa bukan metode palatihan yang tidak ada, tetapi tidak ada pendorong untuk membuat metode itu.

Sebuah organisasi dan Gerakan, khususnya Gerakan dakwah membutuhkan pendekatan untuk melakukan perekrutan dan pembinaan secara berkesinambungan.


Sumber : Kata Pengantar oleh KH. Rahmat Abdullah dalam Buku Kekuatan Sang Murabbi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tadabur Surat Yasiin_Cara Allah Mengenalkan dan Menegaskan Diri-Nya

 Bismillahirrahmanirrahim. 1. Yasiin, jumhur ulama mayoritas mengambil pendapat yang aman, yaitu maknanya. Hanya Allah yang mengetahui artin...